Ichwan Sebut Kebutuhan Bantuan Pangan Tinggi Berdampak Kelangkaan “Minyak Kita”

  • Bagikan

LAMPUNGONE.CO, BANDARLAMPUNG- Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Dinas Pangan mengungkap penyebab kelangkaan “Minyak Kita”, yakni pengalihan distribusi untuk memenuhi program bantuan pangan nasional.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pangan Kota Bandar Lampung, Ichwan Adji Wibowo, menjelaskan bahwa minyak goreng subsidi saat ini menjadi bagian dari paket bantuan pangan yang akan segera didistribusikan kepada masyarakat.

“Program bantuan pangan periode Februari–Maret akan dibagikan di awal Mei. Setiap keluarga penerima manfaat akan mendapatkan dua karung beras masing-masing 10 kilogram, jadi total 20 kilogram, ditambah ‘Minyak Kita’ sebanyak 4 liter dalam kemasan 2 liter,” jelasnya,

Menurut Ichwan, tingginya kebutuhan untuk program bantuan tersebut berdampak pada pasokan “Minyak Kita” di pasaran. Pasalnya, distribusi minyak goreng subsidi difokuskan untuk memenuhi kebutuhan bantuan di seluruh Indonesia, termasuk di Lampung.

“Karena ‘Minyak Kita’ sedang didistribusikan untuk bantuan pangan, maka di pasar memang terjadi keterbatasan. Ini karena sebagian besar stok diserap untuk program tersebut,” katanya.

Lanjutnya Ia menambahkan, selain faktor pengalihan distribusi, kemungkinan juga terdapat kendala dari sisi penyaluran oleh Bulog. Namun demikian, pihaknya menekankan agar harga di tingkat pasar tetap sesuai aturan dan tidak merugikan masyarakat.

“Kalau dari distribusi Bulog memang ada kendala atau pengalihan, kita tidak bisa berbuat banyak. Yang penting harga jangan sampai melanggar ketentuan,” tegasnya.

Ichwan juga mengungkapkan bahwa jumlah penerima bantuan pangan tahun 2026 mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pada 2025 jumlah penerima sekitar 52 ribu keluarga, maka tahun ini meningkat menjadi 100.624 keluarga penerima manfaat (KPM).

“Artinya meningkat hampir 100 persen. Tahun ini cakupan penerima juga diperluas berdasarkan desil kesejahteraan, dari sebelumnya hanya desil 1 sampai 3, sekarang hingga desil 5 dan 6 juga menerima,” jelasnya.

Sementara itu, di lapangan, pedagang mengeluhkan kosongnya stok “Minyak Kita” selama satu bulan terakhir. Dodi, pedagang sembako di Pasar Gintung, mengaku tidak lagi mendapatkan pasokan dari supplier.

“Minyak kita sudah ada satu bulanan tidak ada. Kami juga kurang tahu penyebabnya karena ambil dari supplier,” katanya.

Hal serupa disampaikan Ilham, pedagang lainnya, yang menyebut stok dari grosir juga kosong. Sebelum langka, “Minyak Kita” dijual di kisaran Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per liter, mengikuti harga dari distributor.

Dengan kondisi ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk sementara menggunakan alternatif minyak goreng lain, sembari menunggu distribusi “Minyak Kita” kembali normal setelah penyaluran bantuan pangan selesai.

Penulis: EliEditor: Roni
  • Bagikan