Mengagumi Warisan Turki Usmani di Pusat Kota Bursa (#3)

  • Bagikan

Selepas makan siang di sebuah restoran, bus segera merayap ke pusat kota Bursa. Busa merupakan ibu kota pertama Dinasti Turki Usmani. Jadi, banyak hal yang penting untuk kami kunjung di sini sebagai penanda bahwa dinasti ini bermula di sini.

Sebelum ditahbiskan sebagai ibukota Turki Usmani, sebenarnya kota Bursa telah eksis sejak tahun 230-192 SM. Ia didirikan oleh Raja Bithynia yang bernama Prusias. Nama kunonya adalah Prusa, yang disingkat dari nama Raja. Setelah penaklukan oleh kekaisaran Ottoman Orhan Gazi, pada 6 April 1326 diubah menjadi Bursa.

Berdasarkan catatan sejarah, Bursa adalah ibu kota pertama pada masa kejayaan Dinasti Utsmaniyyah antara tahun 1335 hingga 1413. Bursa disebut juga kota hijau atau Green Paradise karena memiliki banyak taman dan kebun yang asri. Lokasi Bursa juga dikelilingi oleh hutan hutan yang cukup luas. Di samping itu, Bursa berada di tepi laut Marmara sehingga menjadi kota bandar yang sangat penting.

Di kota ini terdapat makam para Sultan Uthmaniyyah di sebuah pemakaman kuno kerajaan. Selain itu, kita dapat mengunjungi istana peninggalan dinasti tersebut dan juga beberapa museum yang menggambarkan kondisi Bursa pada masa dahulu.

Sayangnya, kami tidak memiliki terlalu banyak waktu untuk mengeksplorasi Bursa. Salah satu yang dapat kami kunjungi adalah Grand Mosque (Ulu Camik) dan Koza Han (Pasar Sutra).

Ada banyak liputan tentang Grand Mosque ini. Salah satunya adalah label sebagai masjid tertua di kota Bursa yang memiliki kubah berjumlah 20 buah, kubah yang tidak biasa pada masanya. Menurut legenda, sejatinya Sultan meminta dibuatkan 20 masjid di Bursa pada para arsitek. Namun yang terjadi, mereka malah membangun sebuah masjid dengan 20 kubah.

Green Mosque ini disebut sebagai masjid hijau yang dalam bahasa Turki adalah Yesil Camii atau ulu camii. Mengapa disebut seperti itu? Sebagaimana Blue Mosque atau Masjid Sultan Ahmet di Istanbul yang berwarna biru, Masjid Hijau didominasi dengan warna hijau Toska. Perancang masjid indah ini adalah Haci Ivaz Pasha atas perintah Sultan Celebi Mehmet pada tahun 1419 s/d 1421. Di samping unik karena kubahnya, masjid ini dipenuhi dengan detail yang indah, yang membuat kita berdecak kagum.

Keindahan masjid ini akan terasa bila kita masuk ke dalam. Kaligrafi dengan ukuran beragam menghiasi seluruh dinding dan kubah masjid. Semuanya asli dari tulisan tangan seniman Ottoman. Tepat di tengah-tengah masjid, terdapat air mancur segi enam yang digunakan untuk berwudu. Tentu ide membangun tempat wudu di tengah masjid ini sangat orisinil dan sama tidak umumnya dengan membangun 20 buah kubah untuk satu masjid.

Di samping Greend Mosque, terdapat pusat perbelanjaan bernama Koza Han. Koza Han (silk market) merupakan pasar bersejarah sebagai tempat perdagangan sutra yang terkenal sejak zaman dahulu kala.

Koza diambil dari kata ‘kepompong sutra’ dan Han berarti penginapan. Bangunan dua lantai dengan pola segi empat berukuran 45,90 m x 37,50 berfungsi sebagai tempat penjualan pod ulat sutra. Tak heran bila di sini menjadi sentra sutra sebab Bursa merupakan pusat peternakan ulat sutra yang menjadi bahan dasar untuk pembuatan karpet sutra hingga saat ini. Koza Han juga dilengkapi dengan 95 kamar penginapan dan air mancur di bagian tengah. Saat ini, Koza Han menjadi pusat jual beli berbagai tekstil sutra, barang antik, souvenir, barang-barang rumah tangga, dan berbagai barang lainnya.

Perpaduan antara sejarah yang panjang dan pemanfaatan modern pada Koza Han menjadinya sebagai ikon kota Bursa yang banyak dikunjungi oleh turis juga banyak diabadikan oleh para fotographer.

(Oleh Muhammad Walidin Iskandar)

  • Bagikan