Proyek Rigid Beton Terkesan Asal Jadi, Kinerja Pelaksana Dipertanyakan

  • Bagikan

LAMPUNGONE.CO, BANDAR LAMPUNG- Menanggapi adanya proyek rigid beton di komplek Institut Tekhnologi Sumatera (Itera) yang dikerjakan oleh PT. Kreasindo Putra Bangsa senilai Rp16 miliar terkesan asal jadi, Ketua Forum Wartawan Hukum (Forwakum) Aan Ansori menilai kinerja pelaksana proyek tidak profesional.

“Kalau pekerjaan itu belum saja dilalui kendaraan dan baru dikerjakan tetapi sudah banyak retakan, ya otomatis kualitas corannya yang jelek, berarti pelaksananya terindikasi ada permainan di situ,” kata Ketua Forwakum Aan Ansori, Rabu (6/10) di Bandar Lampung.

Oleh karena itu kata Aan seharusnya pihak pelaksana membongkar kembali kerjaan itu dan perbaiki jangan dibiarkan dan hanya dipoles dengan semen begitu saja.

“Musti segera dibongkar dan diperbaiki kembali, jangan dibiarkan dan hanya dipoles dengan semen saja,” ucapnya.

Ketua Forwakum juga berharap pihak terkait Kementrian PUPR dapat memeriksa kinerja para pelaksana yang mengikuti tender sehingga bagi pemenang itu benar-benar pelaksana yang kinerjanya baik.

“Dari pekerjaan ini jadi tolak ukur bagi pihak terkait yang melelang pekerjaan tersebut untuk menilainya, masukkan daftar hitam kalau perlu,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, Proyek rigid beton yang berada di area kebon raya Institut Tekhnologi Sumatera (Itera) yang dikerjakan oleh PT. Kreasindo Putra Bangsa (KPB), sepanjang 1576 M² senilai Rp16 miliar diduga dikerjakan asal jadi.

Hal ini berdasarkan fakta di lapangan terlihat sepanjang rigid beton yang sudah jadi tersebut banyak sekali retakan-retakan padahal jalan belum dilalui kendaraan. Ratakan-retakan tersebut terjadi dari sisi pinggir bagian kanan hingga tembus ke sisi pinggir bagian kiri.

Apalagi diketahui bahwasanya rigid beton tersebut tidak memakai tulangan besi dibagian sisi kiri dan kanannya.

Saat dikonfirmasi di lokasi, konsultan pengawas proyek, Bambang mengatakan bahwa, retakan-retakan tersebut akan segera diperbaiki pihaknya.

“Yang retak akan kita bongkar dan dicor ulang,” kata Bambang, Selasa (5/10) di lokasi pekerjaan.

Terkait tidak adanya tulangan besi di sisi kiri dan kanan rigid beton, konsultan pengawas nengatakan bahwa, pekerjaan tersebut sudah sesuai RAB, yang tidak memakai tulangan besi penahan dibagian sisi kiri dan kanannya.

“Ini memang sesuai dengan RAB nya, kami tidak mengurangi apa yang ada di RAB nya, ini kan sisi kiri pakai pembatas jalan, dan sisi kanan pakai rabat mangkanya tidak pakai tulangan besi, ini hanya memakai rangkaian besi dibagian tengahnya saja yang jarak satu sama lainnya sepanjang 4 meter, besi pakai bowel,” jelasnya.

Saat media ini mempertanyakan terkait pekerjaan proyek rigid beton tersebut beda dengan pekerjaan rigid beton yang sedang dikerjakan pihak lain di sebelah jalan tersebut, dikarenakan saat pantauan di area kebun raya Itera banyak pekerjaan rigid beton di beberapa jalan tersebut yang dikerjakan oleh pihak pelaksana lainnya, sementara pekerjaan pihak lain itu menggunakan tulangan besi di sisi kiri dan kanannya, konsultan pengawas mengatakan bahwasanya pekerjaan itu beda instansi dan spek.

“Kalau di sebelah itu Bina Marga, kalau kami Cipta Karya,” terangnya.

Sementara, Ketua Gerakan Masyarakat Pembangunan Lampung (Gamapela) Toni Bakrie saat memantau pekerjaan itu menyatakan, proyek rigid beton tersebut dikerjakan asal jadi terlihat banyak retakan-retakan.

“Ini corannya sangat buruk sekali, belum apa-apa sudah banyak retakan seperti ini, kualitasnya buruk,” ucapnya.

Apalagi kata Toni Bakrie, dibagian sisi kiri dan kanan rigid beton tersebut tidak memakai penahan rangkaian tulangan besi, sehingga kemungkinan terjadinya retakan diakibatkan tidak adanya tulangan besi.

“Retakan-retakan ini mungkin juga karena gak adanya tulangan besi di sisi kiri dan kanan rigid beton, ini kok seperti ini RABnya?,” tandasnya.

Toni Bakrie berharap pihak pelaksana segera membongkar semua titik retakan-retakan di rigid beton tersebut untuk diperbaiki jangan hanya ditutupi dan dipoles dengan semen saja.

  • Bagikan