Hari Air Sedunia, YABB Melalui CLL Gelar Zoom Meeting

  • Bagikan

LAMPUNGONE.CO, BANDAR LAMPUNG  – Bertepatan dengan hari air sedunia 2022, Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB) melalui Catalayst Changemakers Lab (CCL) mengadakan kegiatan Zoom Meeting. Terkait, mewujudkan tiga inovasi terpilih untuk menangani permasalahan air di Makassar, Semarang dan Bandar Lampung, Selasa (22/3).

YABB yang merupakan bagian dari GoTo group, meluncurkan program CCL yang menggandeng Changemakers di berbagai daerah. CCL sendiri berfokus pada permasalahan air minum layak dan bencana hidrometeorologi.

Dalam hal tersebut, Chairwoman YABB, Monica Oudang, mengatakan bahwa, pemilihan tiga daerah pada tahap pertama ini didasarkan pada tingkat permasalahannya.

Dan untuk dilampung diketahui bahwa pertahunnya dicemari 276.649,16 ton. Hal tersebut dipilihnya Kota Bandar Lampung sebagai pilot project dari Yayasan Anak Bangsa Bisa (YABB) bersama Changemakers Catalyst Changemakers Lab (CCL) dalam bidang inovasi manajemen sampah Pesisir.

“Tiga kota ini sebagai daerah pesisir yang berisiko terdampak naiknya air laut dan penurunan permukaan tanah. Dimana, fokus permasalahan pada akses air minum cukup rendah, pencemaran sampah di sumber dan badan air, hingga rentan bencana hidrometeorologi,” ujar Monica dalam Virtual Media Briefing.

Dan untuk di Lampung, program CCL akan menyasar daerah ibu kota, terkhusus daerah pesisir, yaitu Pulau Pasaran, Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung. Sedangkan Changemakers yang akan menerapkan inovasi CCL yakni dari komunitas Gajahlah Kebersihan.

Project Director Gajahlah Kebersihan, Dicky Dwi Alfandy. Mengatakan bahwa, permasalahan sampah di Pulau Pasaran telah menimbulkan dampak lingkungan, bahkan bagi nelayan setempat. Dari data yang dipaparkan, pada tahun 2020 saja, setidaknya di Bandar Lampung terdapat 276.649,16 ton timbulan sampah, dan 28 diantaranya adalah sampah plastik.

“Akibat pencemaran laut yang disebabkan oleh sampah tersebut, sangat berdampak bagi nelayan. Yang dimana nelayan mencari ikan jadi semakin jauh, dikarenakan sudah banyak kawasan laut yang tercemar dari berbagai macam jenis sampah, termasuk sampah plastik,” kata Dicky.

Menurutnya, permasalahan sampah di Pulau Pasaran tersebut disebabkan belum adanya manajemen pengelolaan sampah secara berkelanjutan dan alur yang jelas.

“Karena tidak ada manajemen pengelolaan sampah yang baik, seperti truk pengangkut sampah. Sehingga masyarakat pulau pasaran membuang sampah yang ada ke laut, dan ini butuh aksi nyata,” jelasnya.

Pada pemaparannya, founder Gajahlah Kebersihan tersebut menawarkan tiga alternatif solusi dalam pengelolaan sampah di Pulau Pasaran. Pertama , sistem manajemen sampah, dimana masyarakat di Pulau Pasaran belum memiliki sistem dan alur sampah yang jelas. Sampah dinilai hanya sebagai sampah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi, sehingga tidak dikelola.

Kedua, edukasi terhadap masyarakat hingga stakeholder terkait. Dan yang ketiga membuat platform penjemputan sampah dari Pulau Pasaran, pemilahan sampah hingga teknologi daur ulang sampah sehingga bernilai ekonomis.

“Dengan langkah ini, saya berharap masyarakat, khususnya di Pulau Pasaran lebih peduli lagi dengan sampah yang mencemari lingkungannya,” tandasnya.

  • Bagikan