Lepas dari melihat-lihat fashion show jaket, kami segera menuju Ephesus. Kota kuno dengan 2500 penduduk yang telah dihuni manusia sekitar tahun 6000 SM. Ephesus merupakan salah satu kota Yunani Kuno di barat Antatolia, sekarang menjadi kota Selcuk, Provinsi Izmir, Turki. 8 menjadi satu dari 12 kota liga Ionian dalam sejarah pemerintahan Yunani Kuno.
Dalam pengamatan saya, Ephesus yang disebutkan lebih besar dari Hierapolis nampak sebagai kota padat yang berada di lereng bukit. Bangunannya nampak tidak teratur dengan jalan-jalan yang menurun dan tidak datar. Seluruh bangunan berada dalam satu kompleks sehingga mudah dijangkau hanya dengan jalan kaki.
Mungkin pengamatan saya terlalu subjektif ya sebab dahulu kala, kota ini adalah kota internasional. Kota ini adalah pemukiman tertua yang terletak di pantai Barat Asia Kecil dan kota yang paling menonjol di Pronvinsi Romawi di Asia. Kota ini menjadi pusat perdagangan yang masyhur karena ia adalah kota pelabuhan. Kapal-kapal bersandar di sungai Keyster yang pada waktu itu dapat dilayari. Lembah sungai Keyster melandai hingga ke pedalaman sehingga digunakan sebagai lalu lintas, baik ke Timur maupun ke Utara.

Di samping sebagai kota perdagangan yang menjadi melting pot seluruh pengembara Mideteranian, kota Ephesus secara politis memiliki pemerintahan sendiri yang dikawal oleh orang-orang Roma. Ia juga menjadi barometer penegakan hukum di seluruh provinsi Romawi di Asia karena sistem pengadilan Roma ditegakkan di sana. Kota ini juga menjadi bagian dari kegiatan olimpiade yang dilaksanakan di Helas. Begitulah kebesaran kota Ephesus dalam konstelasi kependudukan dunia saat itu.
Kota Ephesus ini terkenal dengan bangunan kuil Artemis yang merupakan satu dari tujuh keajaiban dunia kuno. Kuil yang selesai dibangun pada 550 SM itu dihancurkan oleh St. John Chrysostom dan pasukannya pada 401 SM. Pada 1870-an, dilakukan sebuah penggalian untuk menemukan keberadaan kuil tersebut oleh Museum Inggris. Mereka berhasil mendapatkan pilar-pilar penyangga kuil, yang diperkirakan masih ada bangunan utamanya yang tertinggal.
Di samping itu, ditemukan juga sebuah bangunan teater/ Grand Theater of Ephesus, bernama Odeon. Odeon ini dibangun semasa pemerintahan Vedius Antonius tahun 150 Masehi. Bangunan itu biasa digunakan untuk perjamuan kecil kekaisaran, arena hiburan warga, termasuk sebagai arena bertarung para gladiator. Daya tampung teater Odeon cukup besar, sebanyak 1500 orang, dengan jumlah tangganya 22 buah. Bagian atas teater dibuat dengan menggunakan pilar-pilar granit merah.
Bangunan yang relatif utuh di Ephesus adalah sebuah perpustakaan. Ia bernama Perpustakaan Celsus yang dibangun sejak 117 Masehi hingga 135 Masehi oleh Gaius Julius Aquila sebagai bentuk penghormatan terhadap ayahnya, Tiberius Julius Celsus Polemaeanus. Perpustakaan Celsus digunakan untuk menyimpan 12 ribu gulungan naskah dari berbagai wilayah. Selain itu perpustakaan ini juga menjadi monumen makam para keturunan Julius Celsus. Pada abad ke-10 Masehi, sebagain besar bangunan perpustakaan ini runtuh akibat gempa bumi. Yang dapat dilihat sekarang merupakan hasil reruntuhannya saja, itu pun hasil pemulihan yang dilakukan Austrian Archeological Institute.
Rasanya masih ingin mengeksplorasi kota kuno ini, tetapi waktu tidak bersisa banyak. Pada akhirnya, kutitipkan kenangan kota Ehesus pada lembar lembar foto yang menjadi pengingat bahwa kami pernah menjejakkan kaki di kota ini.
(Muhammad Walidin Iskandar)









