Cappadocia, It’s My Dream (#13)

  • Bagikan

Perjalanan dari Sultan Hani ke Cappadocia hanya ditempuh selama 1,5 jam juga. Kembali kami melewati bebera kota dengan sistem pemukiman yang  teratur, rapi, dan lapang. Tidak tampak rumah-rumah kumuh dan gang-gang sempit sebaimana di Indonesia. Hal ini cukup wajar karena Turki hanya memilki 90 juta jiwa penduduk yang mendiami kawasan seluas 783.562 km².

Wilayah Cappadocia memiliki alam khas. Ia tercipta dari gugusan bebatuan hasil dari letusan gunung ribuan tahun yang lalu. Bebatuan tersebut lalu tertiup angin dan terjadi pengikisan sehingga membentuk kerucut-kerucut yang cantik. Lalu, bebatuan ini kemudian disulap menjadi gua-gua oleh penduduk sebagai tempat hunian. Penduduk Cappadocia masih tinggal di rumah-rumah gua hingga tahun 1900an.

Ketika mendengar bahwa kami akan tinggal di hotel gua (cave hotel), saya berfikir bahwa hotel kami sangat spesisal sebab tentu saja hotel seperti ini sangat sedikit keberadaanya. Sesampai di Urgun, wilayah perhotelan, saya melihat semua hotel ternyata dibangun di dalam bebatuan. Ruang-ruang di dalam asli dipahat dari batu dengan membentuk ruang-ruang kamar, kamar mandi, restoran, dan pusat-pusat kegiatan lainnya. Sepanjang memata melihat kiri-kanan jalan, hotel-hotel semacam ini memenuhi wilayah Cappadocia.

Kami tiba di hotel MDC; hotel berbintang lima yang pada awalnya tidak saya percaya berlabel demikian. Malam telah mulai menjelang saat ketibaan kami dan oleh sebab itu kami langsung menuju restoran. Saya sungguh terkesan dengan restoran hotel ini. Ruangannya cukup luas. Dindingnya terdapat bekas pahatan, demikian juga dengan bagian atapnya. Semakin saya perhatikan, nyata bahwa ruangan ini adalah gua yang dibangun dengan membuat lobang dalam batu. Namun, interior ruangan sudah sangat indah dengan segala fasilitas penghangat dan perkakas modern, persis bintang 5. Menu makanan yang disajikan khas ala Eropa dengan epitizer, main desert, dan desert. Semua dihidangkan oleh pelayanan secara berurutan. Perut telah terisi, badanpun menjadi hangat, namun mata menjadi kantuk, dan kami segera masuk ke dalam kamar.

Hotel MDC ternyata cukup besar. Kamar-kamar tersedia di bagian atas dan juga bawah mengikuti kontur bukit. Kami mendapat kamar di bagian ujung yang cukup datar. Sesaat setelah pintu kamar terbuka, keajaiban kembali dihadirkan. Kamar dengan interior Turki khas dengan karpet-karpet indahnya terpampang di depan mata. Dindingnya merupakan pahatan. Terdapat ceruk-ceruk artistik untuk meletakkan benda-benda pajangan. di bagian tengah, terdapat ranjang dan perlengkapan hotel layaknya.  Di bagian kepala ranjang, terdapat pahatan batu yang sangat artistik. Fix…yang tidur di sini akan merasakan seperti Cleopatra dan pasangannya.  Di salah satu dinding kamar, terdapat sofa panjang khas Turki untuk bersantai. Sedikit menuruni tangga, terdapat kamar mandi yang juga di dalam gua. Akan tetapi, fasilitasnya sangat modern, seperti Yakuzzi. Selama menginap di hotel berbintang lima, jarang sekali menemukan ada Yakuzzi di dalam kamar. Nah, di dalam hotel gua ini, semua fasilitas menunjukkan keistimewaannya.

Pagi menyingsing. Semua wisatawan memiliki agenda yang sama, yaitu berada di sebuah tempat sebelum matahari menampakkan dirinya.  Cuaca sangat dingin pada angka suhu -2 derajat. Salju di luar masih saja menghampar di jalanan. Kami bersegera naik mobil menuju tempat penerbangan hot balloon.  Perjalanan ditempuh sekitar setengah jam melalui jalanan yang berkelok-kelok. TIba di tanah lapang, beberapa ballon telah mulai ditiup dengan kipas angin besar. Gas helium ditembakkan, menimbulkan api yang akan mengangkat keranjang.

Wisatawan yang telah memesan tiket untuk naik balon udara berduyun-duyun berdatangan, juga termasuk wisatawan yang ingin mengabadikan momen balon-balon naik mengangkasa. Saya juga termasuk wisatawan yang tidak naik ballon dengan agenda mengambil foto berlatar banyak balon udara yang beranjak naik.  Udara semakin dingin, namun eporia wisatawan melihat ratusan balon udara  yang telah mengembang tak dapat ditahan. Sesi mengabdikan momen penerbangan balon udara selesai. Kami akan melihat sesi berikutnya yang tak kalah cantik, yaitu  balon-balon di udara yang telah meninggi di atas hamparan alam bebatuan Cappadocia yang sangat khas.

Mobil kami meninggalkan tanah lapangan di dataran rendah menuju dataran tinggi di ujung sana. Nampak banyak sekali mobil-mobil yang beriringan menuju tempat yang sama. Sesampai di atas bukit yang datar, terhampar pemandangan yang sungguh menakjubkan. Balon-balon udara mengambang di atas lembah dengan menara-menara bebatuan Cappadocia. Sulit untuk menggambarkan keindahan ini. Benar kata Lydia, ini adalah impian, bukan dunia nyata. It’s my dream!

Carak: salah satu dari 35 Kota Bawah Tanah di Cappadocia (#14)
Melengkapi perbendaharaan pengetahuan tentang alam Cappadocia yang khas, kami mengeksplorasi tempat lain, seperti salah satu kota bawah tanah bernama Carak. Situs kota bawah tanah ini berdampingan dengan perumahan penduduk, kafe-kafe, dan juga toko souvenir.

Sebuah rumah gua yang cukup besar yang kami kunjungi di Carak dapat dianggap prototipe dari rumah-rumah gua. Rumah gua dibangun pada kekaisaran Romawi dan digunakan penduduk untuk perlindungan semasa perang. Mereka bisa hidup selama setahun di dalam gua tanpa berani mengekspose diri ke dunia luar. Guna hidup nyaman dalam persembunyian, mereka telah mendisain gua sedemikian rupa.

Seperti diketahui, rumah gua ini berada di atas ketinggian. Begitu tiba di depan rumah gua, terdapat sebuah pintu langsung menuju ruang dapur. Ruangan ini dilengkapi dengan fasiltias kulkas/penyimpanan tradisional yang bisa menampung makanan untuk setahun. Ruang selanjutnya adalah kandang ternak. Dua ruang di muka ini dimaksudkan untuk menipu musuh. Musuh akan menganggap bahwa itu adalah tempat ternak biasa. Setelah pintu tersebut, terdapat pintu dengan roda yang terbuat dari batu bundar. Guna pintu bantu tersebut adalah untuk menghambat musuh bila terlanjur dimasuki. Pintu bantu tersebut dapat menyelamatkan penduduk di dalam karena ruangan di dalam ternyata banyak sekali ruang kediaman. Ada ruang tamu, ruang tidur, air mancur untuk mandi, gereja, pengolahan wine/anggur, bahkan di lantai bawah juga terdapat ruang-ruang lain. Penghubung ruang-ruang ini adalah tunel kecil seukuran satu tubuh. Ada juga lobang yang menghubungkan ruang bawah dengan ruang atas sehingga suara peringatan dari atas bisa terdengar bila terjadi sesuatu. Ruangan ini memiliki sirkulasi udara yang cukup baik, tapi tidak memiliki akses kepada sinar matahari yang leluasa. Bisa dibayangkan betapa sulitnya hidup di dalam gua dengan musim dingin yang panjang. Akan tetapi, marilah kita percaya bahwa setiap masa periode kehidupan manusia, mereka memiliki teknologi untuk bertahan hidup sesuai dengan masanya.

Atraksi bebatuan Cappadocia lainnya adalah Lembah Merpati di Gerome. Perjalanan menuju ke tempat ini tetap disuguhi pemandangan bebatuan, goa-goa berpintu,  dan menara-menara batu. Di sebuah tempat yang juga tetap terasa dingin menggigit, kami tiba di atas pelataran di ketinggian yang berbatasan dengan jurang. Di bawah jurang itu, terdapat lembah dengan dengan menara-menara batu yang antik. Samar tampak lobang-lobang di menara itu. Kabarnya, itu adalah rumah-rumah merpati Cappadocia yang membentuk koloni. Tentu saja kawasan ini merupakan kawasan elit merpati. Mereka menikmati kehidupan yang mewah berupa apartemen-apartemen tinggi di tanah Cappadocia.

Begitulah Cappadocia, wilayah yang berawal dari letusan serangkaian gunung berapi, meliputi Gunung Erciyes dan Hasan yang membentuk lanskap unik. Keunikannya terletak pada puncuk gunung bebatuan yang membentuk lubang-lubang menyerupai “cerobong peri”. Ketika gunung berapi meletus dan menyebarkan abunya yang tebal ke seluruh wilayah ini, abunya berubah menjadi batuan lunak yang memadat dan menjadi setebal puluhan meter. Dari batuan lunak yang dikenal sebagai tuf, angin dan hujan selama jutaan tahun membentuk formasi batuan yang selalu indah di Cappadocia.

Cappadocia, kawasan seluas mata memandang terdiri dari bebatuan lunak yang pada musim dingin berselimut salju. Ia merupakan situs pariwisata dengan hotel-hotel gua di masa modern, pemukiman dari batu bagi penduduk dan merpati masa lampau, dan lokasi bagi 35 kota bawah tanah pada masanya, serta menjadi tempat yang unik sepanjang sejarah.

(Muhammad Walidin Iskandar)

  • Bagikan