Bertahun-Tahun Jalani Hemodialisis, Sekti Temukan Ketenangan dalam Perlindungan JKN

  • Bagikan

LAMPUNGONE.CO, BANDARLAMPUNG — Menjalani hari-hari sebagai seorang pejuang cuci darah bukanlah perjalanan yang ringan. Rutinitas cuci darah dua kali dalam seminggu menuntut ketahanan fisik sekaligus keuletan mental yang luar biasa bagi siapa saja yang mengalaminya.

Kisah tersebut tercermin dari perjalanan hidup Katarina Sekti Endang (72). Di usia senjanya, pensiunan PNS ini harus menerima kenyataan pahit ketika hipertensi yang sempat ia abaikan selama bertahun-tahun berujung pada komplikasi serius yang merusak fungsi ginjalnya.

Di tengah ujian hidup yang tidak mudah itu, secercah kenyamanan ia rasakan setiap kali menginjakkan kaki di rumah sakit. Sekti menceritakan bahwa seluruh proses administrasi berjalan runtut, mudah dipahami, dan jauh dari kata rumit. Seluruh informasi pelayanan disampaikan secara terbuka kepada pasien dan keluarga yang mendampingi.

Tak hanya itu, ketulusan para tenaga medis turut meringankan langkahnya. Para perawat dengan sabar mendampingi di sisi tempat tidur selama terapi berlangsung, sementara dokter rutin memantau serta mengevaluasi perkembangan kesehatannya.

“Setiap kali datang untuk cuci darah, alurnya sudah jelas dan kami tinggal mengikuti arahan dari petugas. Ibu selalu didampingi selama tindakan, dan dokter rutin memberikan penjelasan mengenai kondisi kesehatannya,” tutur Sekti dengan senyum hangat.

Bagi Sekti dan keluarganya, kehadiran Program JKN menjadi penopang utama dalam menghadapi badai kesehatan jangka panjang ini. Ia menyadari sepenuhnya bahwa biaya terapi hemodialisis yang harus ditebus secara rutin akan menjadi beban yang teramat berat tanpanya.

“Dengan adanya JKN, kami bisa fokus pada proses pengobatan tanpa harus memikirkan biaya yang besar. Karena untuk cuci darah jika tidak dicover BPJS Kesehatan, mungkin saya tidak sanggup untuk membayar secara umum,” ungkapnya jujur.

Lebih dari sekadar program jaminan sosial, BPJS Kesehatan telah menjelma menjadi sumber kekuatan moril baginya untuk terus bertahan di masa-masa paling rentan dalam hidupnya.

Selama lebih dari tiga tahun rutin menjalani hemodialisis, Sekti merasa dirawat dengan sepenuh hati. Ia berharap kebaikan serupa terus dirasakan oleh sesama masyarakat yang membutuhkan.

“Saya ingin berterima kasih kepada BPJS Kesehatan yang selalu hadir untuk pasien seperti saya. Melalui program ini, saya bisa terus menjalani terapi dengan tenang tanpa harus pusing memikirkan biaya. Setiap kali saya datang untuk cuci darah, para perawat selalu menyambut saya dengan ramah. Dokter pun dengan sabar menjawab setiap pertanyaan saya tentang kondisi kesehatan saya. Pelayanan seperti ini sangat membantu saya untuk tetap positif dan tidak merasa sendiri dalam menjalani proses penyembuhan,” tambahnya.

Di akhir kisahnya, Sekti menitipkan harapan agar Program JKN terus berlanjut dan merangkul lebih banyak masyarakat luas. Ia juga tak lupa mengajak sesama peserta untuk saling menguatkan melalui kepatuhan.

“Semoga program ini terus berkelanjutan dan membantu banyak keluarga. Saya juga mengingatkan agar peserta membayar iuran tepat waktu setiap tanggal 10 supaya semangat gotong royong tetap terjaga,” tutup Sekti dengan penuh ketulusan.

Penulis: RlsEditor: Roni
  • Bagikan