LAMPUNGONE.CO, LAMPUNG BARAT- Jalan penghubung antara Pekon (Desa) Pancurmas, Ujung Rembun, dan Tawan Sukamulya, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat, rusak masih jadi kendala utama petani mengeluarkan hasil bumi.
Mobilitas akses jalan ini cukup ramai setiap hari di wilayah sentra pertanian dan perkebunan. Jalan itu rusak sudah sejak puluhan tahun. Ojek ialah transportasi yang dapat warga andalkan untuk pengangkut hasil panen.
Mayoritas petani di Pancurmas dan Ujung Rembun hanya bisa mengeluhkan lantaran ongkos angkut hasil panen menggunakan ojek mencapai Rp1500 per kg. Kini para petani lebih memilih menjual hasil bumi ke Kabupaten OKU Selatan karena biaya lebih murah dibanding menjual ke tengkulak di pusat Kota Liwa.
“Saat ini hanya ojek motor bisa angkut hasil panen. Itupun ongkos mahal karna jalan rusak. Jadi, kami bawa hanya sampai Tawan dan jual ke OKU Selatan pakai kapal kecil,“ tutur Andi, petani asal Pekon Pancurmas, Senin (10/1).
Pada lain pihak, Udin, berprofesi ojek pengangkut hasil panen, mengatakan, para petani menilai ongkos mahal namun cukup sesuai dengan kontur jalan dan resiko keselamatan.
Ia mengaku sangat sulit menaklukan jalan rusak, tanjakan, dan temurunan curam.
“Saya kasihan bila ongkos angkut terlalu mahal. Tapi kondisi jalan parah, ya, saya terpaksa naikan. Karna sesuai juga mas dengan resiko saya,” ungkap warga Ujung Rembun ini.
Menurut warga setempat, akses jalan sulit juga menjadi parah bila penghujan tiba. Ini mengakibatkan distribusi hasil panen tertunda. Petani baru bisa menjual hasil panen, seperti kayu manis, cabai, lada, alpukat, jahe, dan biji kopi jika cuaca terang.
Puluhan tahun jalan penghubung antara Pancurmas, Tawan Sukamulya, dan Ujung Rembun-Tawan Sukamulya belum pernah dapat perbaikan. Menurut warga, banyak sudah korban kecelakaan saat membawa hasil panen.
Kini, para petani pada dua desa setempat ini berharap ada perhatian serius pemerintah daerah setempat guna memperbaiki jalan. Ini agar ongkos angkut murah dan petani sejahtera.









