LAMPUNGONE.CO, BANDARLAMPUNG- Tahun 2026 Nilai tukar rupiah diperkirakan melemah, mencapai sekitar Rp17.000 per dolar AS. Bank Indonesia (BI) akan lakukan strategi memperkuat pertumbuhan ekonomi serta pendalaman pasar ruangan.
Hal itu disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung Achmad P Subarkah. Ia mengatakan nilai tukar rupiah selalu berubah-ubah yang dimana tahun 2025 saja sudah Rp.16.725 per dolar AS maka dari itu Bank Indonesia (BI) mempunyai kebijakan moneter pada pasar.
“Kita memiliki instrumen kebijakan moneter. Ketika rupiah melemah, BI melakukan intervensi pasar. Namun intervensi yang berlebihan juga berisiko menggerus cadangan devisa. Karena itu langkah yang kami ambil harus mendukung ketahanan dan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Kemudian, salah satu fokus BI adaah pendalaman pasar keuangan serta penguatan sektor ekspor–impor yang lebih produktif.
“Pendalaman pasar ruangan (sektor riil) misalnya terkait ekspor dan impor. Kami berkoordinasi dengan pemerintah agar impor yang masuk diprioritaskan untuk bahan baku, bukan barang konsumtif. Termasuk penindakan impor ilegal, karena itu bisa mematikan industri dalam negeri,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) agar tetap berada di sistem keuangan Indonesia.
“Ada ketentuan untuk memperpanjang penempatan devisa hasil ekspor di perbankan dalam negeri. Jadi eksportir wajib memasukkan DHE ke bank di Indonesia. Ini merupakan kebijakan pemerintah dan BI untuk menjaga stabilitas ekonomi,” kata Achmad.
Dengan kombinasi kebijakan moneter, intervensi yang terukur, dan penguatan sektor ekspor–impor, BI berharap tekanan terhadap rupiah dapat dikelola dan tidak menghambat kinerja ekonomi nasional pada 2026.









