Setelah sarapan pagi di Hotel Aeropark dekat Uludag Universitesi, kami segera beranjak menuju bus. Hujan salju begitu lebat di depan hotel. Penunjuk suhu berada di 2 derajat. Udara begitu kuat berhembus. Kami segera naik bus. Di dalam bus udara kembali menjadi hangat dan sesuai dengan kebutuhan suhu tubuh. kami bersiap meneruskan explorasi Turki ke kota Izmir.
Sebagai agenda tambahan, dalam perjalanan ke Izmir ini, kami akan singgah di desa wisata Cumalikizik. Desa ini tampak biasa saja, tapi jangan menganggap remeh ya. Keberadaan desa ini telah diakui sebagai warisan Unesco pada tahun 2014. Desa ini adalah prototype pemukiman asli masa pemerintahan Turki Usmani. Rumah-rumah di sini tidak berubah sejak tahun 1400 yang lalu. Jalanannya tersusun dari bebatuan. Rumahnya juga terdiri dari batu dan kayu yang dilapisi lumpur seperti semen. Hanya saja, fungsi rumah ini sekarang banyak yang telah berubah menjadi toko souvenir, cafe, hotel, dan restoran.
Desa Cumalikizik ini didirikan sebagai desa Vakif. Pola historisnya terjaga dengan baik salah satunya pada struktur pedesaan sipil pada periode Utsmani ketika awal masih utuh. Dengan demikian Desa Cumalikizik ini telah menjadi pusat turis yang populer dengan suasana sejarah yang masih utuh pada Kekaisaran Ottoman 700 tahun silam.
Cumalikizik tidak terlalu jauh dari kota Bursa, hanya berjarak 10 km dan berlokasi di distrik Yildrim. Bila Anda tidak dalam perjalanan group tour, Anda bisa menyewa taksi karena tidak terlalu mahal. Kunjungan Anda ke Cumalikizik sangat berarti karena memenuhi maksud pemerintah Turki dalam rangka menjaga sejarah di Bursa agar tetap dikenal dari generasi ke generasi.
Saat kami datang di bulan Maret, Cumalikizik masih bermandikan salju. Pohon-pohon meranggas, demikian pula pohon rambat di muka rumah-rumah tua sebagai penghias. Bila Anda datang ke sini pada musim semi, desa ini akan lebih semarak dengan pohon rambat yang hijau, bunga-bunga beraneka warna, dan tentu saja buah-buahan yang dijual di toko-toko souvenir.
Cumalikizik, dalam kesederhanaan dan keunikannya telah menjadi magnet bagi turis lokal dan internasional hingga saat ini dan mendatang. Ia adalah contoh bagaimana Pemerintah Turki mengenalkan masa lalu sebagai pijakan kehidupan generasi yang hidup saat ini.
Selesai dengan desa wisata Cumalikizik, kami segera naik bus kembali menujut kota Izmir. Izmir merupakan kota terbesar ketiga di Turki, setelah Istambul dan Ankara. Kota yang berada di selatan ini layak dikunjungi karena merupakan pusat industri kulit terbesar di Eropa, bahkan asia. Untuk itulah, kami menempuh perjalanan sejauh 5 jam dari kota Bursa dengan bus untuk sampai ke Izmir.

sepanjang perjalanan, kami disuguhi dengan jalan highway yang bebas tanpa lobang. Bonus yang paling menarik adalah pemandangan di kiri dan kanan jalan. Separuh perjalanan menuju Izmir, ladang-ladang gandung di sisi jalan telah berubah menjadi permadani salju yang putih bersih. Hanya sedikit yang tersisa dari hehijauan. Semua tampak menjadi putih laksana kapas. Tampak pula kincir angin pembangkit listrik berdiri gagah di atas bukit-bukit yang diselimuti salju. Sebaran kincir angin ini cukup banyak dan saya yakin menghasilkan energi terperbaharui. Sesekali, hamparan salju berganti dengan pemukiman. Tapi, tetap saja atap rumah itu dipenuhi salju. Saya membayangkan betapa sulitnya hidup dengan salju. Udara di luar rumah saat itu mencapai 2 derajat. Angin kencang menerpa wajah pejalan kaki dengan kencang. Bila tidak memakai kostum winter, alamat badan akan terkena hipotermia.
Setelah perjalanan mendekati Izmir, barulah pemandangan berubah menjadi hijau. Ladang-ladang hijau yang belum ditanami gandum terhampar luas. Sesekali ladang itu ditingkahi kebun-kebun apel, zaitun, delima, dll. Kota ini cukup hangat dengan suhu 8 derajat. Di depan mata nampak sebuah kota yang jumawa dengan apartemen tinggi di atas perbukitan. laut Ege juga menjadi pemanis hiruk pikuk kota Izmir. Garis pantainya dijadikan arena hiburan warga dan turis. Tata taman tepian laut yang tersambung taman kota menjadikan spot ini pelabuhan bagi hati yang ingin bersantai. Sementara titik ekonominya bermula dari port yang menjadikannya sebagai kota pelabuhan ternama di Turki.
Setiba di Izmir, bus segera menuju Clock Tower; Ikon kota Izmir. Turun dari bus, angin dingin langsung menyerang tubuh. Beruntung saya sudah berpakaian lengkap, terutama penutup leher hingga kepala. Pengalaman sebelumnya berhenti di rest area sebelumnya tanpa pelindung angin yang cukup telah mengajarkan saya untuk serius menghadapi cuaca. Melawan cuaca? menggigil adalah tahap yang ringan, hipotermia adalah tahap lanjutnya.
Clock Tower yang kami tuju berada di pelataran seluas. Menara jam itu berdiri di tengah setinggi. Ada empat jam yang menghadap ke empat penjuru di atasnya. Kabarnya, jam pertama adalah hadiah dari Jerman kepada kerajaan Ottoman. Di sekeliling pelataran terdapat perkantoran, seperti. Tempat ini sangat cocok untuk bersantai keluarga. Lapangan yang luas, kursi-kursi taman yang nyaman, burung merpati yang ramah adalah alasan mengapa warga kota betah berada di sini.
hanya berjalan sedikit dari pelataran menara jam, kami tiba di tepian laut dengan pemandangan yang menakjubkan. Taman dan jalan dibangun dengan indah. Tepian lautnya menjadi tempat terbaik untuk menyapa bayu senja; dingin tapi ramah.
Perlahan, senja di ujung cakrawala masih bersinar jingga pada pukul 19.00 sore hari. Para remaja sibuk memainkan angin di tepi pantai. Sementara anak-anak ceria menyiuhkan kumpulan merpati di pelataran Clock Tower. Senja yang sangat indah untuk warga Izmir yang sangat ramah.
(Muhammad Walidin Iskandar)









