Pertumbuhan Kinerja Perekonomian Lampung Meningkat Signifikan di Triwulan II Sebesar 4,80%

  • Bagikan

LAMPUNGONE.CO, BANDAR LAMPUNG- Kinerja perekonomian Provinsi Lampung menunjukkan peningkatan signifikan pada triwulan II tahun 2024 dengan pertumbuhan sebesar 4,80 persen year on year (yoy). Angka ini lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 3,30 persen yoy.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh kuatnya permintaan domestik serta perbaikan kinerja sektor eksternal, terutama ekspor sawit.

Ekonom Senior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Fiskara Indawan, menyatakan bahwa perekonomian Lampung pada triwulan II-2024, berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tercatat sebesar Rp124,69 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB) dan Rp72,36 triliun atas dasar harga konstan (AHK).

“Peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi, terutama Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), menjadi faktor utama yang mendukung pertumbuhan ini,” ujarnya dalam sesi update perekonomian di Kantor BI Lampung, Kamis (8/8/2024).

Menurut Fiskara, realisasi PMDN hingga Juni 2024 telah mencapai lebih dari 50 persen dari capaian tahun sebelumnya, dengan peningkatan tahunan sebesar 18,25 persen. Namun, Penanaman Modal Asing (PMA) justru mengalami penurunan tajam sebesar 43,47 persen.

Dalam hal kebijakan moneter, Bank Indonesia menyesuaikan suku bunga berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi.

Pada triwulan II-2024, inflasi di Provinsi Lampung tercatat sebesar 2,25 persen yoy, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di angka 2,13 persen.

“Kabupaten Lampung Timur mencatat inflasi tertinggi di provinsi, yaitu 3,63 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Mesuji dengan angka 1,73 persen, ” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Biro Perekonomian Provinsi Lampung, Rinvayanti menjelaskan bahwa inflasi di Lampung dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk kenaikan harga beras akibat penurunan pasokan setelah puncak panen, kenaikan harga cabai rawit di tingkat distributor, serta kenaikan harga emas yang mengikuti tren global.

“Selain itu, tingginya permintaan ekspor kopi robusta turut mendongkrak harga kopi bubuk di pasaran, sementara kenaikan tarif cukai rokok pada awal tahun menyebabkan lonjakan harga sigaret kretek tangan (SKT), ” ungkapnya.

Sebagai langkah pengendalian inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Lampung telah melakukan berbagai upaya, seperti operasi pasar, pemberian bantuan sosial, dan pemantauan harga bahan pangan di 15 kabupaten/kota.

“Kami juga meluncurkan Toko Pengendalian Inflasi dan Mobil Transportasi Operasi Pasar (TOP) untuk memastikan harga dan ketersediaan bahan pokok tetap stabil,” tambah Rinvayanti.

Perum BULOG Provinsi Lampung juga berperan aktif dalam menjaga stabilitas harga dengan menyalurkan 22.738 ton beras SPHP hingga akhir Juli 2024, atau 75 persen dari target tahunan sebanyak 30.000 ton. Sementara itu, penyerapan gabah dan beras dari petani lokal terus dilakukan untuk mendukung ketahanan pangan di wilayah tersebut.

“Dengan berbagai langkah yang diambil, kita berharap dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi yang stabil dan mengendalikan inflasi agar tetap berada pada level yang terkendali,” tandasnya.

  • Bagikan