Caravansaray Sultan Hani (#12)

  • Bagikan

Perjalanan dari Makam Maulana ke Sultan Hani hanya memakan 1.5 jam saja. Saya bersemangat untuk mengunjungi hotel kuno ini, karena pernah menulis hotel-hotel yang beroperasi sepanjang jalur sutra pada abad ke-13-16.

Caravanseray Sultan Hani adalah salah satu hotel terbesar dan terutuh hingga saat ini. Akan tetapi, saya sangat masygul karena tidak punya waktu untuk masuk. Padahal saya ingin sekali mengekplorasi tempat tersebut, mengetahui ceruk-ceruk kamar, hamam, tempat penukaran hewan, dan lain sebagainya. Waktu yang telah beranjak sore dan niat untuk tiba di Cappadocia lebih awal telah memaksa saya tidak masuk ke dalam caravanseray tadi. Sungguh sangat kecewa, sebenarnya.

Caravanserai Sultanhani ini didakwa sebagai terbesar di dunia merupakan peninggalan Kesultanan Turki Seljuk (berkuasa abad 11-14). Bangunan yang berdiri tahun 1229 ini masih terawat dengan baik dan menjadi spot wisata yang menarik.

Caravanserai diambil dari kata Persia Karwan; sekolompok orang yang bepergian dan Sarai; istana atau hotel besar. Bangunan ini biasanya berdiri di tepi jalan dan menyediakan fasilitas penginapan bagi orang yang bepergian. Pembangunan Caravanserai sebagai hotel gratis bagi para pelancong telah dimulai sejak tahun 718 M oleh Umar bin Abdul Aziz; salah satu Khalifah Dinasti Umayyah. Ia menginstruksikan gubernur Samarkand untuk membangun Caravanserai di seluruh wilayahnya. Samarkand sebagai salah satu wilayah Persia merupakan titik temu penting bagi pedagang jalur sutra.

Arsitektur Caravanserai abad pertengahan biasanya mengikuti desain benteng romawi, istana Persia, dan rumah keluarga Asia Tengah. Bentuknya persegi panjang atau bujur sangkar dan memiliki satu gerbang yang cukup tinggi dan lebar. Dengan demikian, semua kendaraan dan barang bisa masuk. Materialnya berasa dari bahan lokal, seperti batu bata lumpur. Halaman dalam hampir selalu tak memiliki atap. Di halaman dalam itu senantiasa berderet kedai, kandang, ceruk, atau kamar untuk menampung para pedangan dan pelayan.

Kenyamanan pengguna juga menjadi perhatian pemilik Caravanserai. Ketersediaan air, toilet yang bersih, ventilasi, dapur umum, dan kamar mandi yang besar adalah hal yang diperhitungkan. Di samping itu, pintu gerbangnya dijaga oleh petugas. Dan yang paling penting, penginapan ini diberikan secara gratis kepada semua pengunjung, mulai dari makanan orang hingga makanan ternak. Siapa yang menanggung? Ternyata para bangsawan setempat yang punya ulah.

Di Persia, terdapat 100 Caravanserai sisa-sisa peninggalan masa lalu. whc.unesco.org menyebutkan 25 Caravanserai, di antaranya adalah; Robat Sharaf, Robat Mahi, Sharif Abad, Robat Sang, Fakhre- Davood, Ghadamgah, Neyshaboor, Sange Kalil, zaferanyeh, Mehr, Mazinan, Myandasht, Myamey, Deh Molla, Ahovan, Qushe, Lasgerd, Dehnamak, Deyre Gachin, Eynol Rashid, Parand, Sado Saltaneh, Zeynol Din, Khamoshi, Farasfag, Bisooton, Izadkhast, Khan khoreh, Taj Abad, GHasre shirin, GHelli, Robat Eshgh.

Terkhusus untuk Caravanserai Sultan Hani, suatu saat aku akan kembali!

(Muhammad Walidin Iskandar)

  • Bagikan