Mencari Baklava di Kota Bursa (#4)

  • Bagikan

Hotel kami bernama EuroPark dan terletak di dekat Uludag Bursa University. Hotel ini berlabel bintang 5 walaupun tampak seperti biasa saja. Kamar kami berada di lantai 5. Dari jendela, saya memandang keluar sambil menikmati turunnya hujan salju. Lalu, mata saya tertuju pada satu titik di seberang hotel, ya ada stasiun kereta di sana. Pikiran saya segera menyala….saya harus mencoba menjadi orang lokal di kota Bursa ini. (acting as local adalah salah satu cara berwisata dengan berperilaku menjadi orang tempatan).

Sebenarnya, acting as local ini tidak terlalu benar ya. Sebab ada ponakan bernama Reagen yang kuliah di Uludag University. Saya menelponnya untuk datang ke hotel dan menawarkan diri untuk diajak mengeksplorasi kota Bursa di malam hari. Ia datang menjelang malam. Di bawah temaram cahaya bintang dan rinai hujan salju, kami bertiga menembus dinginnya suhu menuju stasiun kereta Universitesi menuju kota Bursa.

Salah satu yang menjadi tujuan utama saya adalah mencari cafe yang menawarkan Baklava. Yah….Baklava ini seperti benalu di pikiran saya. Sejak dari Indonesia, lezatnya Baklava sudah menempel erat di alam bawah sadar. Saya betul-betul seperti ibu-ibu yang hamil pada trisemester dan sedang ngidam baklava. Sesampai di salah satu stasiun kota, kami segera menembus hujan salju menuju salah satu kafe bernama Fistikbiye Baklava. Kabarnya, Baklava di kafe ini cukup enak. Sesampainya di kafe, kami disambut oleh karyawannya yang ramah.

Suasana di kafe tampak cozy dan lengang. Hanya ada beberapa tamu yang datang memesan Baklava, makan, dan pulang. Menurut Reagan, Baklava adalah makanan desert sebagai penutup makanan. Jadi, mereka bisa jadi telah makan makanan utama (main desert) di tempat lain, lalu mampir di sini untuk makanan penutup. Adapun kami, memang sengaja keluar hotel untuk mencari makanan ini, padahal belum mengisi perut untuk makan malam. Sebuah kesalahan ya….

Saya maju ke lemari kaca yang dijaga oleh para pelayanan. Tampak di dalam lemari kaca ada berbagai macam kue dengan potongan segi empat. Potongannya tidak terlalu besar, mungkin seukuran 5 x 5 cm atau ada yang lebih kecil. Sebagai newbie dalam bidang perbaklavaan, saya memilih semua jenis baklava yang tersedia. Masing-masing 2 untuk setiap jenis Baklava. Untungnya ada 5 jenis Baklava yang tersedia. Artinya, ada 10 Baklava di piring kami disertai dengan teh pahit sebagai pelengkap.

Dengan antusias, saya mencicip Baklava pertama. Rasanya? Terjawab sudah. Sungguh manis terlalu! Ya…benar-benar manis melampaui batas manis lidah orang Indonesia. Kalau Anda pernah minum es saat gigi sedang berlobang, mungkin begitulah rasanya. Walhasil, 10 potong Baklava hanya dimakan 3 potong saja. Masing-masing makan satu potong. Sisanya dibagi bertiga, dan sisanya lagi dibungkus untuk ke hotel tanpa disentuh lagi hingga kini.

Berhubung kami belum makan malam, setelah keluar dari cafe Baklava, kami memesan taxi menuju Korupark: Mall terbesar di kota Bursa. Kami masuk dengan lift untuk menuju lantai paling atas. Di lantai ini, nampak banyak orang yang keluar dari Bioskop. Lagi-lagi menurut Reagan, orang Bursa sangat gandrung dengan bioskop karena harga tiket bioskop di sni sangat murah.

Selanjutanya, kami menuju food court di lantai 3. Di sini, saya berencana makan Kebab. Apa rasanya kebab di negeri aslinya? Itulah yang ingin saya cicipi. Kami memesan dua buah kebab yang ternyata berukuran jumbo. Bersusah payah saya menghabiskan jatah saya, tidak juga habis. Akhirnya, 3/4 dari sisanya saya bawa pulang. Keesokan harinya, saya tetap menghabiskan kebab ini di bis. Menjelang sore hari, barulah semua kebab itu ludes. Bisa dibayangkan, betapa besar dan panjang kebab di negeri aslinya.

Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 11.00 malam. Mall ini akan tutup sempurna saat jarum jam menunjukkan pukul 12.00 tepat. Kami bersegera menuju metro di depan Mall dan kembali ke hotel untuk bersiap-siap besoknya menuju kota berikutnya; Izmir.

(Oleh: Muhammad Walidin Iskandar)

  • Bagikan