Mencari Rumi di Kota Konya (#11)

  • Bagikan

Jalaludin Rumi tidak lahir di Turki. Ia lahir di Balkh, Persia Raya tahun 1207, tapi namanya kini identik dengan Turki, khusunya kota Konya, kota terbesar kelima di Turki. Perjalan kami mencari Rumi ditempuh selama 5 jam dari kota Antlya. Jalanan yang lurus, bebas lobang dan hambatan, dengan pemandangan di sisi jalan yang indah adalah anugerah perjalanan yang tiada tara. Saya membuka gadget dan mulai mempersiapkan kata manakala bertemu Rumi nanti di kota Konya.

Alam kota Antalya yang hijau kini telah kami tinggalkan. Bus terus mendaki membelah pegunungan Taurus setinggi 1800 dpl. Hutan-hutan cemara menghiasi bukit-bukit berbatu. Semakin naik, semakin tampak hamparan salju di bawah hutan cemara, hingga akhirnya kami tiba di puncak gunung Taurus yang terus tidur dalam selimut putihnya dalam cuaca  0 derajat celcius. Sungguh alam yang menakjubkan yang dahulu hanya pernah saya lihat dalam film-film Barat di televisi. Bus sempat singgah di rest area untuk memberi kesempatan penumpang pergi ke kamar mandi. Kesempatan berada di pegunungan yang diselimuti salju dengan suhu yang cukup ditolerir tubuh kami manfaatan untuk mengambil gambar. Dinginnya lebih moderat daripada suhu udara di uludag yang benar-benar membuat menggigil.

Setelah melewati puncak gunung Taurus, jalanan kembali menurun seakan menari-nari diiringi musik alam dengan notasi putih. Sesampainya di lembah, kami melewati beberapa perkotaan kecil. Tampak sebagian atap rumah-rumah dan ladang masih ditutupi salju. Sementara di ujung cakrawala, pegunungan Taurus masih saja jumawa dengan  saljunya mengelilingi kota kecil ini.

Setelah 5 jam perjalanan, gerbang kota Konya tampak di depan mata. Terdapat pegunungan panjang bertahtahkan salju yang mengelilingi kota ini.  Kota Konya yang nampak datar dan luas ini merupakan ibukota kerajaan Celjuk Islam pada tahun 1200 silam. Berbeda dengan kota-kota lain yang berada di dekat pebukitan, Konya berada di tengah perbukitan tanpa vegetasi berarti. Sejauh mata memandang, terdapat ladang luas hingga ratusan kilometer hingga bertemu dengan pegunungan es. Pegunungan itu tampak gersang saja dengan sedikit hamparan salju di atasnya.

Kami memarkir bus di pelataran yang sangat luas. Nampaknya pemerintah Turki telah bersiap untuk menyambut para pelancong pasca pandemi. Kawasan ini bertabur aroma Maulana Rumi. Nama-nama kafe, jalan, toko souvenir membawa nama Maulana atau tertulis Mevlana. Sementara Mevlana dengan kerabat/muridnya bersemayam tenang di bawah menara keramik biru yang menjulang di antara 4 kubah berornamen khas kekaisaran Ottoman.

Saya menyiapkan diri untuk bertemu Maulana Rumi. Bersama istri, saya masuk melalui pintu gerbang bersama para pengunjung yang lain. Ruangan itu dimulai dari display kaligrafi indah warisan kejayaan Islam selama berabad-abad. Di bagian sisi kanan terdapat dua makam yang lebih tinggi dari  makam-makam lainnya. Itulah makam Maulana Rumi dan Sultan Walid. Saya tak sempat mengurai kata yang sudah tersusun, justru sepotong hikmah Rumi berbisik lembut di telinga, “Isi aku dengan anggur dari sunyi-Mu, biarkan anggur itu merendam pori-poriku, hingga Keindahan dari Yang Maha Agung akan terungkap bagiku”.

Saya terkesiap, segera saya sanjungkan salawat pada Nabi dan berdoa untuk kebahagiaan Rumi beserta para arwah yang terbaring di situ. Puas berdoa, saya beranjak ke bagian lain yang berisi display pakaian sufi Maulana dan beberapa naskah puisi masnawi, Diwan al-Akbar, dan al-Qur’an tulisan tahun 1200 hingga 1900 an. Keluar dari ruang utama, terdapat bangunan lain yang berkubah banyak. Di bawah setiap kubah, terdapat ruang display untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan Maulana. Peninggalan tersebut menunjukkan betapa berkembangnya pengetahuan dan industri perkakas pada saat Maulana hidup.

Ingin rasanya berlama lama bersama Maulana. Membayangkan bagaimana sang sufi ini sampai pada maqam yang demikian mulia sambil membina para muridnya menuju tempat yang sama. Saya bertanya-tanya tentang pertunjukan tarian sufi, tapi saya tidak menemukan jawaban memuaskan. Andaikanpun ada, tak sempatlah saya menonton pertunjukkan tersebut karena perjalan akan dilanjutkan ke Caravansaray Sultan Hani.

(Muhammad Walidin Iskandar)

  • Bagikan