Perjalanan menuju Pamukkale dilanjutkan setelah makan siang. Bus kembali bergerak menyusuri jalan raya yang mulus. Di sisi kiri dan kanan jalan terbentang luas ladang gandung dan hutan zaitun. Tipikal hutan homogen ini telah menarik perhatian saya untuk membandingkannya dengan lahan-lahan di pinggir jalan Indonesia. Pada dasarnya, hutan-hutan di Turki memanjang dari pinggir jalan hingga ke atas perbukitan. Namun, vegetasi yang tumbuh hanyalah jenis yang telah diatur, seperti olive tree atau apel, dll. Vegetasi ini nampak menonjol karena tidak ada vegetasi tambahan lain. Hanya rumput yang tumbuh di sini, dan tingginya tidak akan melebihi 10 centi meter. Coba bandingkan dengan hutan tropis Indonesia yang berada di pinggir jalan raya. Segala tumbuhan akan terlihat. Mulai dari rumput setinggi dua centi hingga tanaman rambat yang mengalahkan pohon tinggi. Vegetasi yang tumbuh akan tumpang tindih dan berjenis-jenis. Demikian pula dengan pohon-pohon keras, semuanya saling berebut tanah untuk dapat tumbuh dengan jumawa.
Pemandangan hutan homogen sepanjang jalan ini kadang diselingi oleh perkotaan kecil atau perkampungan. Pemukiman di sepanjang jalan ini, menurut saya juga tidak kalah homogen dengan hutannya. Rerata penduduk tinggal di flat/apartemen 4 lantai. Bentuk-bentuk bangunan pemukiman relatif sama, baik dari segi arsitektur, ketinggian, dan warna. Menurut saya, selera mereka ini terlalu datar dan pucat. Tetapi, aspek positifnya, pemukiman mereka menjadi teratur. Bandingkan dengan pemukiman di pinggir jalan raya Indonesia. Setiap kita melewati perkampungan, ada banyak model bangunan yang tampak, mulai dari rumah-rumah tradisional hingga bangunan modern dengan arsitektur beragam, warna berlimpah, dan ketinggian yang berselang-seling. Belum lagi bila diperhatikan secara detil, rumah-rumah dengan gang-gang sempit dengan warna mencolok, seperti kampung pelangi di kota Malang ataupun di kota Jogja. Walaupun terkesan tak beraturan, tipikal bangunan Indonesia menurut saya penuh dengan keceriaan, orisinalitas, dan spirit unity in diversity.
Perhatian saya juga tidak lepas dari ladang-ladang gandung, apel, delima, zaitun, kapas di pinggir jalan. Ladang mereka luas sekali hingga terbentang ke kaki bukit. Walaupun terlihat luas, tidak terlihat pondok-pondok peristirahatan sebagaimana layaknya pondok petani di Indonesia. Pun tidak nampak tenaga manusia yang berjibaku di tengah dinginnya cuaca. Ladang itu benar-benar kosong melompong, tapi gulma tidak pula meraja lela. Nampaknya, pertanian mereka dilakukan secara modern. Keterlibatan manusia berkurang dan digantikan dengan mesin. Oleh karena itu, tidak terlihat manusia di ladang tersebut. Rumah-rumah kaca juga banyak terlihat di tepi jalan untuk pertanian palawija. Asumsi saya, walaupun warga Turki banyak yang berprofesi sebagai petani, tapi mereka adalah petani modern yang tidak terlihat berpakaian kumal karena harus membersihkan rumput dan lumpur di lahan pertanian mereka.
Kami tiba di Pamukkale menjelang sore. Jam menunjukkan angka 06.00 petang dengan sinar mentari yang masih saja benderang. Hotel yang kami tuju bernama Adempira. Satu-satunya hotel bintang 5 yang setara bintang 5 di Indonesia. Hotel ini menempati lahan yang luas dengan empat kelompok bangunan bersegi empat. Di tengahnya terdapat kolam renang. Nampaknya kolam renang ini hanya digunakan pada musim panas, sebab pada bulan Maret yang dingin ini, para tamu akan memilih thermal/onsen yang disediakan di dalam bangunan utama. Ada dua thermal yang berada di basement hotel, satu dalam kolam yang bening, yang lainnya agak keruh. Keduanya hangat dan cocok untuk relaksasi setelah perjalanan wisata yang agak melelahkan.
Kami berencana untuk mandi air hangat di onsen tersebut, tapi pertunjukkan tari perut di lobby hotel lebih menggoda. Akhirnya, tari perut menjadi pilihan utama dan mandi thermal hilang dari pilihan, berganti dengan keinginan untuk tidur yang tidak bisa ditunda.

Pagi menjelang. Kami bersiap-siap menuju Hierapolis, kota kuno di masa Romawi di atas perbukitan kota Pamukkale. Bus merambat melalui perbukitan yang indah dengan pemandangan pemukiman di setiap sisi. Untuk melihat reruntuhan kota Hierapolis ini, kami harus menyewa mobil kecil menuju Amptheater terbesar. Saya benar-benar takjub dengan kota kuno ini. Kota ini didisain lengkap dengan sektor pemukimam, aktivitas sosial, pemerintahan, kuil, dan perkuburan (metropolis). Dari segi wilayah, seperti lebih luas dari kota Ephesus karena hamparannya seluas mata memandang. Bangunan besar dengan bahan-bahan batuan besar menyisakan reruntuhan yang melempar kita pada imajinasi bahwa kota ini benar-benar besar dan modern pada saatnya.
Akhirnya, kami sampai pada Amphiteater di atas perbukitan. Inilah satu-satunya bangunan yang relatif utuh. Bangunan dengan tempat duduk melingkar dan bertingkat-tingkat yang digunakan untuk pertunjukkan ini bisa memuat 2500 orang. Di bagian depan, terdapat bangunan utama yang digunakan keluarga raja atau pejabat kerajaan manakala ada acara. Di depannya ada panggung basement yang biasa digunakan oleh para jawara yang bertanding melawan singa atau binatang buas lainnya. Sungguh, sebuah peristiwa masa lampau yang sulit dicari bandingannya di masa sekarang.
Saya berdiri dari barisan kursi paling atas dari amphitheater. Saya lemparkan pandangan ke arah panggung, tapi mata saya melewati batas tersebut dan jatuh ke ujung cakrawala di dataran rendah di bawahnya. Mendapati pemandangan yang luar biasa ini, saya berfikir bahwa kerajaan Romawi yang membangun kota Hierapolis ini benar-benar memilih tempat yang sempurna. Wilayah ini begitu tinggi namun tetap datar untuk pemukiman. Dari atas ini, segala musuh dapat dipantau keberadannya. Artinya, dari aspek keamanan, kota ini telah mengalami perhitungan yang matang.
Menurut sejarah, kota ini berawal pada awal abad ke-3 SM, saat sebuah kuil dibangun oleh orang Phrygia di lokasi tersebut yang didedikasikan untuk Hieron. Lokasi pembangunan kuil ini di kemudian hari menjelma menjadi Hierapolis. Pada abad ke-2 SM, Hierapolis dikembangkan menjadi tempat spa yang dipersembahkan kepada Raja Pergamon, Eumenes II, oleh Roma.
Asal nama Hierapolis masih diperdebatkan. Sebagian percaya nama Hierapolis diambil dari kuil Hieron yang didirikan di tempat tersebut. Sebagian lain berpendapat Hierapolis diambil untuk menghormati Hiera, istri Telephos, yang telah mendirikan dinasti Attalid. Ketika raja terakhir dinasti Attalid terbaring sekarat, dia mengembalikan Hierapolis kepada Roma.
Pada awal abad ke-1 M, Hierapolis porak poranda oleh gempa bumi, dan beberapa dekade kemudian, pada masa Nero, kota hampir hancur seluruhnya oleh gempa lain. Kota ini lantas dibangun kembali dengan sepenuhnya mengadopsi gaya Romawi. Selama dua abad berikutnya, Hierapolis terus berkembang dengan Kaisar Hadrian membangun sebuah teater yang terkenal.
Pada awal abad ke-3, kota ini diberikan status khusus yang disebut Neocoros oleh kaisar Caracalla. Ini memberi Hierapolis sejumlah hak istimewa dalam sistem hukum Romawi. Hierapolis terus berkembang dengan populasi mencapai lebih dari 100.000 orang. Kota ini semakin terkenal karena berbagai kuil yang dimilikinya.
Di samping itu, ada sesuatu yang membuat kota ini menjadi sangat istimewa. Ya…keberadaan air panas/thermal di kaki pemukiman. Air panas ini menjadi pelengkap dan anugerah untuk penduduk Hierapolis. Keberadaan air panas ini menjadi unik karena tergenang dalam kolam-kolam yang berundak-undak. kolam dan pematangnya berwarna putih bak kapas, sementara air panasnya berwarna toska nan kemilau. Air panas dari atas dialirkan ke kolam-kolam tersebut hingga membentuk teras kolam berwarna putih, berair toska, dan mengepulkan uap. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Saya membayangkan penduduk Hierapolis pasti bercengkrama di sini pagi dan sore dalam aktivitas permandian mereka. Jelas pula penduduk Heoripolis adalah penduduk yang selalu bugar karena air thermal ini mengandung khasiat untuk kesehatan.
Tentu saja saya ingin merasakan berada di kolam-kolam tersebut, sebagaimana saya lihat di lembar-lembar fotografi yang sangat mempesona. Saya buka sepatu sebagaimana syarat bermain di teras kolam thermal tersebut. Saya injakkan kaki ke tanah berwarna putih bak kapas. Dingin terasa menggigit syaraf kaki. Segera saya menuju air kolam yang saya fikir pasti hangat dan ternyata air itu juga terasa sangat dingin. Saya putuskan untuk merendam kaki pada saluran air yang mengalir deras, baru terasa hangat di kaki. Lumayan untuk menghindarkan sejenak kaki dari rasa dingin. Lama kelaman, telapak kaki saya tidak tahan karena dasar pijakan benar-benar seperti hamparan batu es. Saya dan istri bergegas ke pelataran untuk segera memakai sepatu untuk menghangatkan kaki ditambah secangkir jagung panas untuk menghangatkan badan.
Mengakhiri kunjungan ke Hierapolis dan mata air hangat Pamukkale, saya hanya berkesimpulan bahwa warga kota ini adalah warga yang sangat beruntung karena memiliki peradaban yang agung dengan limpahan anugrah alam yang sempurna.
(Muhammad Walidin Iskandar)









