LAMPUNGONE.CO, BANDAR LAMPUNG- Pemerintah Kota Bandar Lampung membongkar paksa Pedagang Kaki Lima (PKL) yang ada di sepanjang Jalan Bukit Tinggi, Kamis (30/12).
Menurut pantauan Lampungone.co, pada kejadian pembongkaran tersebut sempat terjadi kericuhan antara Pedagang Kaki Lima dan Satpol-PP Kota Bandar Lampung di lapangan. Namun, hal tersebut tidak menghalangi pembongkaran terhadap PKL.
Pada pembongkaran tersebut ada sekitar 46 Lapak kosong yang ada di Jalan Bukit Tinggi. Namun, pada 46 Lapak yang kosong tersebut ada beberapa pedagang yang coba-coba membuka lapaknya.
Dalam hal tersebut, Asisten 2 Sukarma membenarkan bahwa ada Pedagang Kaki Lima yang coba-coba membuka Lapaknya.
” Dari 46 Lapak ternyata memang ada 3 pedagang yang coba-coba membuka lapaknya,” ujar Sukarma saat di wawancarai.
Lanjutnya, kegiatan ini bertujuan untuk kebaikan Kota Bandar Lampung yang menjadi etalase provinsi Lampung. Dan Walikota Bandar Lampung bersama rekan pengembangan sudah memberikan kesempatan kepada pedagang untuk memindahkan dagangannya ke lantai 2.
“Pedagang yang di pindahka kelantai 2 akan diberikan subsidi sewa ruko selama 6 bulan itu gratis tidak dipungut retribusi. Dan apabila mereka tidak pas di lantai 2 tersebut, maka pengembangan memberikan penawaran untuk pindah ke pasar SMEP,” katanya.
Kemudian di tempat yang sama, salah satu PKL Dewi Ayu (30) mengatakan kecewa terhadap Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung yang secara paksa membongkar lapak dagang mereka.
Dewi juga mengungkapkan bahwa pedagang harus membayar uang salar dengan total sejumlah Rp7000 hingga Rp8000 perharinya.
“Yang narik uang salar itu setiap harinya dari pihak pengembang, security (keamanan) ada, dari Dinas Pasar ada, dan sampah. Masing-masing harus bayar sebesar Rp2 ribu, jadi totalnya Rp8 ribu/hari,” kata Dewi.
Menurutnya, setelah dilakukan pembongkaran ini mereka akan tetap melakukan kucing-kucingan dengan Pemkot dan tetap membuka lapak di lahan yang sudah dibersihkan.
“Kita dipindahkan ke atas, tapi kita tidak bersedia bayar. Waktu Tahun 2017 juga kita pernah dipindahkan ke atas. Tiga bulan kami turun lagi ke bawah, karena di atas (lantai 3) kami tidak mendapatkan hasil. Kami pingin kucing-kucingan lagi seperti Tahun 2017. Kami akan tetap bertahan disini, mengulang lagi meskipun harus pakai asongan. Karena ini merupakan tempat kami mencari rezeki, tempat kami mencari sesuap nasi untuk membina anak kami, serta membiayai pendidikan anak dan cucu kami,” katanya









