Perjalanan Ke Kushadashi (#6)

  • Bagikan

Dari kota Izmir, perjalanan dilanjutkan ke kota Kusadashi. Hari telah mulai gelap, hotel Windham telah menunggu kami untuk sejenak melepas penat.  Perjalanan selama 1.30 menit hampir tidak terasa karena lelah campur gembira merambat dalam alam pikiran kami, tentang keindahan alam Turki sepanjang perjalanan hari ini.

Bangun pagi dalam keadaan semangat, kami bergegas sarapan di hotel.  Rerata kuliner Turki masih akrab di lidah orang Asia. Walaupun menuju ke arah hambar, masih ada juga makanan yang terasa pedas, bahkan ada sayuran yang mirip dengan daun keladi, lezat rasanya. Bila kurang terasa nendang, saya mengeluarkan rempah andalan dari dalam tas; saos sambel dan bon cabe.

Pagi ini kami akan menuju industri tekstile kulit. Kita akan melihat bagaimana industri pariwisata berjalan seiring dengan industri manufaktur. Bus kami memasuki halaman Rossini Leather Fur and Fashion Show. Kami diarahkan  ke sebuah ruangan peragaan busana dengan lintasan catwalk di tengahnya. Sebelum sampai di sana, para karyawan telah menyambut kami dengan berbaris dengan pakaian terbaik mereka. Mereka sadar para tamu ini adalah sumber pundi-pundi mereka. Jadi, sejak dari turun bus, mereka telah menyambut para tamu dengan istimewa.  Segelas air lemon hangat disuguhkan kepada setiap tamu yang datang di pintu Fashion show room.

Di dalam ruang, kami duduk di kursi sofa berbentuk letter U. Kursinya empuk dan nyaman. Terdapat kertas bertuliskan angka 1 hingga 100. Artinya, saat peragaan busana dari kulit nanti, para tamu yang tertarik dengan pakaian peragawan-peragawati yang yang telah bernomor, bisa langsung menuliskannya di kertas tersebut untuk selanjutnya di pesan kepada staff.

Kami telah duduk rapi. Sang manajer tampil ke panggung menyapa para tamu. Ia memperkenalkan bahwa industri sandang kulit ini adalah sumber industri serupa di Eropa. Bila di Eropa sudah berganti merek dan dilabeli harga selangit, maka di Turki masih bisa dibeli dengan harga yang murah. Sang manajer memberikan tips-tips menjaga tekstil kulit agar tetap awet. Tak lupa, ia memilih 3 orang tamu yang akan berlanggak longgok bersama model mereka di panggung nanti.

Lampu tiba-tiba dimatikan. Dalam suasana gelap itu, tiba-tiba terdengar suara musik yang rancak. Beberapa lampu panggung dinyalakan menimbulkan suasana remang. 4 orang model telah berdiri di panggung dengan busana dari kulit. Beberapa model silih berganti melenggang di panggung dengan mengenakan jaket-jaket contoh. Langkah kaki mereka telah terlatih bak model professional. Gerakan mereka meliuk indah dengan jaket yang ditukar setiap kali mereka masuk ke dalam. Tak ketinggalan, peragawan juga hadir untuk menampilkan jaket untuk lelaki. Mereka juga tak kalah professional dengan para peragawati.  Hal istimewa dari jaket-jaket ini adalah mereka bisa dipakai secara bolak-balik. Ada yang bagian dalam terbuat dari kulit sama dengan bagian luar, ada juga yang bagian dalamnya terbuat dari kain. Kedua sisi jaket bisa dipakai dengan tanpa mengurangi nilai estetikanya.

Sebelum masuk ke ruangan ini, dalam fikiran saya jaket-jaket itu mestilah lebar, panjang, dan terkesan berat. Namun, setelah melihat peragaan tadi ternyata jaket-jaket tersebut sangatlah ringan, trendy, berjiwa muda, dan cocok untuk siapa saja. Para model yang hilir mudik di atas catwalk benar-benar mengubah persepsi saya, atau mungkin juga sebagian tamu yang hadir. Apalagi setelah perwakilan model dari tamu turut berlenggang di atas catwalk dengan jaket yang dipilihkan untuk dipamerkan, persepsi sebagian tamu mungkin berubah menjadi sangat ingin membeli.

Selepas peragaan busana, para tamu digiring ke ruangan display jaket. Dengan jargon mencoba gratis, para staff yang rapi dan rupawan/cantik sangat aktif menawarkan agar para tamu mencoba. Mereka dengan sigap memilih ukuran dan bentuk yang pas untuk para tamu. Saya juga ditawari untuk mengenakan salah satu jaket, tapi saya menolak dengan halus. Saya khawatir, bila terlalu akomodatif, saya akan termakan rayuan para marketer ini untuk membeli. Maklum, rerata harga jaket ini berkisar 6 jutaan. Rasanya, keperluan untuk memakai jaket yang keren ini masih kalah dibandingkan dengan kebutuhan untuk membeli minyak goreng (saat itu di Indonesia musim minyak goreng langka dan mahal).

Inilah yang saya maksud mengkombinasikan industri pariwisata dengan industri manufaktur. Mereka menggiring wisatawan untuk belanja dengan cara-cara yang menarik, elegan, dan sulit ditolak. Wisatawan yang berhati lembut dan berkarakter tidak enakan tentu terpaksa membeli jaket-jaket ini, di samping tentu saja mereka yang benar-benar butuh, baik untuk pakaian sendiri ataupun untuk buah tangan.

(Oleh: Muhammad Walidin Iskandar)

  • Bagikan