LAMPUNGONE.CO, BANDAR LAMPUNG – Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung Yanyan Ruchyansyah menyampaikan pihaknya tengah mendorong pengembangan kakao di kawasan perhutanan sosial. Hal ini diambil setelah dilakukan inventarisasi dan ditemukan banyak kelompok tani perhutanan sosial yang sebenarnya telah memiliki tanaman kakao, Senin (17/11/2025).
Ia menjelaskan, banyak petani perhutanan sosial yang memiliki kakao. “Banyak petani perhutan sosial yang punya kakao. Jadi kami ingin melakukan pembinaan supaya budidaya kakaonya menjadi lebih baik,” jelasnya.
Yayan menegaskan, bahwa pengembangan komoditas di perhutanan sosial tidak boleh dilakukan monokultur. Sehingga Pemerintah akan mengarahkan pembinaan dengan konsep agroforestri sesuai ketentuan yang berlaku.
“perhutan sosial tidak bisa monokultur, harus agroforesti, dan itu sesuai dengan rencana mereka. Jadi mereka akan mendorong supaya budidaya juga agroforesti, kalau seperti itu kan jadi kita nanti bisa meningkatkan nilai harga di level petani,” tegasnya.
Ia menambahkan, selain peningkatan budidaya langkah hilirisasi juga akan diperkuat. Pihaknya ingin memastikan bahawa kakao dari perhutan sosial tidak hanya dijual dalam bentuk biji mentah melainkan diproses langsung agar memberikan nilai tambah.
“Mudah-mudahan cocok nih, kelompoknya cocok, nilai harganya bagus. Nah ini akan kita upayakan supaya si kakaonya nanti dihasilkan langsung diproses, jadi hilirisasi. Bukan hanya petani itu menjual mentah,” jelasnya.
Dalam hal ini, banyak kakao di ekspor tetapi tidak jelas berapa banyaknya. “Ada banyak sekali informasi bahwa ini diekspor, tapi diekspornya berapa banyak, kemana, siapa yang mengekspor. Itu yang kehilangan hubungan,” ungkapnya.
Yayan menjelaskan, dengan adanya masuk PT. Olam yang bersedia membuka data dan terdeteksi. “kemarin diskusi dengan kami, beliau bersedia untuk membuka data terkait dengan itu,” ungkapnya.
Langkah ini diyakini dapat memberi gambaran lebih akurat mengenai total produksi dan ekspor kakao dari perhutanan sosial.
“Selama ini perhutanan sosial menghasilkan, ada uangnya, tapi datanya tidak ada. Ini yang kami harapkan bisa menjadi jalan untuk memastikan berapa nilai yang diterima petani, ke mana terjual, dan siapa pembelinya,” tambah Yayan.
Yayan juga mengakui masih terdapat persoalan akurasi data di lapangan. Banyak petani memasukkan data tanaman mereka per komoditas seolah-olah memiliki lahan terpisah, padahal seluruhnya berada dalam satu hamparan agroforestri.
“Ketika ditanya luas kakao berapa, jawabnya satu hektare. Kopi satu hektare. Karennya satu hektare. Padahal lahannya cuma satu hektare. Ini membuat data jadi duplikasi. Karena itu kami harus melakukan penapisan lagi,” tegasnya.








